RSS

Revolusi Sosial tahun 1946 di Negeri Kualuh

08 Jan

Tahun 1946, sistem kerajaan di Sumatera digulingkan oleh pergerakan anti kaum bangsawan dalam sebuah revolusi berdarah yang dikenal sebagai Revolusi-Sosial. Kesultanan-kesultanan yang ada di Sumatera seperti Deli, Langkat, Serdang, Kualuh, Bilah, Panai dan Kota Pinang juga mengalami nasib yang sama.

Pergerakan anti kaum bangsawan kian memanas. Beberapa pemimpin politik yang opportunis, dua diantaranya adalah Karim Marah Sutan dan Luat Siregar dari Partai Komunis Indonesia (PKI), menggunakan pergerakan anti kaum bangsawan ini sebagai upaya untuk memperkuat kekuatan politik mereka. Untuk itu mereka menghasut rakyat sampai akhirnya terjadilah Revolusi-Sosial.

Saat itu raja-raja dan keluarganya dibunuh beramai-ramai dengan kejam dan hartanya dirampas. Selain itu para perusuh juga membunuh kalangan profesional yang berpendidikan barat, terutama mereka yang hidup mengkuti gaya hidup barat. Karena itu juga beberapa orang pro nasionalis dan keluarganya juga turut dibunuh dengan kejam.

Ditambahkan sedikit hikayat dari kesultanan Negeri Kualuh  yang di ambil penulis dari makciknya yang bernama Radja Latifah Hanum.

Dengan mendadak pada tengah malam Istana Kualuh dikepung, harta kesultanan di rampok. Raja Kualuh Yang Dipertuan Tengku Al Haji Muhammad Syah dan keluarganya serta bangsawan-bangsawan Negeri Kualuh di jemput paksa dan di bawa ke sebuah lubang besar yang sudah di siapkan di pinggir hutan.

Satu persatu keluarga bangsawan di panggil dan dihadapkan kedepan lubang dengan berdiri diatas lutut. Kemudian dipancunglah kepalanya satu persatu hingga menggelinding ke dalam lubang.

Saat Sultan Kualuh Radja Yang Dipertuan Tengku Al Haji Muhammad Syah hendak di pacung, sedikit pun kulitnya tidak tergores. Lalu di tikamlah dari belakang, namun sedikitpun tidak tergores juga. Beberapa kali pedang pisau kampak di torehkan ke kulit Radja maka tak satu pun yang bisa melukai kulitnya. Hingga ada satu seruan yang mengatakan,”Bakar…”.

Maka di siapkanlah api untuk membakar. Radja khawatir dia dibakar maka beliau berkata,”Apakah kalian memang bersungguh-sungguh untuk membunuhku?”.Di jawab mereka dengan yakin dan pasti,”Ya…!” lalu Radja berkata,”Ambillah keris dari dalam lemari di kamarku, sungguh aku hanya bisa di bunuh dengan itu”.

Maka mereka mengambil keris tersebut lalu dengan keris itu dibunuhlah Radja dan beliaupun wafat.

Ada lagi hikayat, bangsawan dari Negri Kualuh yang namanya sumber cerita tidak ingat namanya tidak bisa dibunuh dengan senjata tajam, maka dengan ganasnya rakyat beramai-ramai menguburnya hidup-hidup.

Salah satu bangsawan yang bernama Raja Bahrum di panggil dan detik-detik pemancungan akan di lakukan, ada yang berteriak, ”Hei aku kenal dengan orang ini. Ia salah satu tentara nasional”. Saat ditanya Raja Bahrum mengiyakan, maka selamatlah Raja Bahrum dari pemancungan.

Beberapa bulan kemudian sepupu Radja Bahrum, kakek penulis dari Tanjung Pura Langkat Sumatera Utara bernama Raja Kobat beserta ibunya Tengku Siti juga anaknya Raja Latifah Hanum datang berkunjung ke negeri Kualuh, dan merekalah menjadi saksi bahwa Sejak kejadian tersebut Raja Bahrum bisu dan tidak bisa berbicara karena shock sampai akhir hayatnya.

Sungguh tragedi menggenaskan buat sejarah kesultanan pada masa Revolusi-Sosial.

Sumber cerita : Radja Latifah Hanum.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Januari 2011 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: