RSS

Koealoeh Leidong, Membang Moeda, Negara Republik Indonesia, 1947-1948

Koealoeh Leidong, Membang Moeda, Negara Republik Indonesia, 1947-1948

May 2008 (under construction)
By Rob Huisman

During the Dutch colonial rule in the Netherlands Indies, Membang Moeda was one of many large rubber plantations, occupying an area of 3.104 ha..
It was owned by the Dutch “NV Rubber Cultuur-Mij. Amsterdam” and produced approximately 1.3 million kilo’s of rubber in 1938.
Membang Moeda was situated about 50 km south of the city of Kisiran, in the administrative division Asahan, district of Laboehan Batoe, subdistrict Koealoeh Leidong, part of the Sumatra East Coast residency (Sumatera Timor). Membang Moeda was connected to the Deli railroad and had it’s own railway station. The Deli Railroad Company started in 1883 with building a railroad from Laboehan Deli to Belawan. Step by step the railroad was extended throughtout the residency and the last trajectory from Kisiran to Rantauprapat was finished in 1937, connecting Membang Moeda to the network.

After the Japanse occupation of the Netherlands Indies, the Memban Moeda area was never re-gained by the Dutch troops. Actually the local population took matters in their own hands and even removed the native rulers (a.o. Sultan Tengku Mansur Shah) from power during the so-called “social revolution” in 1946.
Neither the Dutch nor the new Indonesian government were able to establish their rule throughout the island, leaving the Asahan region in an isolated situation. During the revolution period from 1945 -1949, the Asahan region had to be selfsufficient and as a consequence, several local authorities issued their own money in order to keep their local economy going.

Between 1947 and 1948, subdistrict Koealoeh Leidong issued it’s own paper money in Membang Moeda.

The first issue of notes in 1947 were signed by the “BAH. Keoeangan” the subdistrict’s financial officer whose name is yet unknown and the “WEDANA KL. LEDONG” the subdistrict’s officer (Dutch: controleur) Mr. M. Sarijan. On october 17, 1945 the “Komite Nasional Daerah Labuhanbatu” was founded and Mr. M. Sarijan was an honorary party member since the beginning. Currently a street (Indonesian: Jalan) is named after him in the nearby city of Rantauprapat. The first three denominations (50,100 and 250 Roepiah) spell “KL. LEDONG” and the fourth denomination spells “K/ LEIDONG”. All four denominations spell “MOEDA”with “OE”.

During the subsequent issues of 1948, the Indonesian spelling gradually changes from “OE” to “U”.

Koealoeh Leidong, Membang Moeda, Negara Republik Indonesia, 1947

50 (Lima poeloeh) Roepiah, 1 September 1947 (KUKI H-600)
h600obverse
h600reverse

100 (Seratoes) Roepiah, 1 September 1947 (KUKI H-601)

h601obverse
H601reverse

250 (Doea Ratoes Lima Poeloeh) Roepiah, 25 October 1947 (KUKI H-602)

H602obverse
H602reverse

1000 (Seriboe) Roepiah, 10 December 1947 (KUKI H-603)

H603obverse
H603reverse

2.500 (Doea Riboe Lima Ratoes) Roepiah, 1 Januari 1948 (KUKI H-604)

H604obverse
H604reverse

5.000 (Lima Riboe) Roepiah, 15 Januari 1948 (KUKI H-605)

H605obverseH605reverse

10.000 (Sepuluh Ribu) Rupiah, 27 Djanuari 1948 (KUKI H-606)

h606obverse
h606reverse

10.000 (Sepuluh Ribu) Rupiah, 10 Februari 1948 (KUKI H-607)

H607obverse
h607reverse

25.000 (Dua Puluh Lima Ribu) Rupia, 22 Februari 1948 (KUKI H-608)

h608obverse
H608reverse

50.000 (Lima puluh Ribu) Rupia, 3 Maart 1948 (KUKI H-609)

H609obverse
H609reverse

250.000 (Dua Ratus Lima Puluh Ribu) Rupia, 15 Februari 1948 (KUKI H-610)

H610obverse
H610reverse

10.000.000 (Sepuluh Djuta) Rupiah ORLAB, 15 April 1948 (KUKI H-611)

H611obverse
h611reverse

25.000.000 (Dua Puluh Lima Djuta) Rupiah ORLAB, 3 Mei 1948 (KUKI H-612)

H612obverse
H612reverse

10.000.000 (Sepuluh Djuta) Rupiah ORLAB, 5 April 1948 (not listed in any catalogue)

5aprilobverse
5aprilreverse

10.000.000 (Sepuluh Djuta) Rupiah ORLAB, 12April 1948 (not listed in any catalogue)

12aprilobverse
12aprilreverse

10.000.000 (Sepuluh Djuta) Rupiah ORLAB, 12April 1948 (KUKI H-611)

96182obverse
96182reverse

++++

The author would like to receive feedback; please e-mail via info@uang-kertas.com

================

Source:

Atlas van Nederlands Oost Indie

Website http://www.4dw.net/royalark/Indonesia/kualuh.htm

Banknotes and Coins from Indonesia, 1945-1990, Yayasan Serangan Umum 1 Maret 1949 & Perum Peruri Jakarta

Katalog Uang Kertas Indonesia 1782-1996, Sugiana Handjaja, 1996 issue (KUKI)

sumber http://home.planet.nl/~huism494/membangmoeda.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Februari 2011 in Tak Berkategori

 

Rapat Koordinasi Pemerintahan Pembangunan & Masyarakat

17 Januari 2011,

RAKORTIM (Rapat Koordinasi Pemerintahan Pembangunan dan Masyarakat) di Kantor Kepala Desa Air Hitam Kecamatan Kualuh Leidong Kab. Labura. Dalam rapat Rakortim pertama kali di Tahun 2011 ini juga dihadiri oleh berbagai lapisan instansi, Yakni Instansi Kecamatan, Camat Kualuh Leidong beserta staf, Komandan Airut, Polsek Kualuh Hilir/Leidong, Para Kepala-kepala Desa dan Lurah beserta ibu PKK, Kepala Puskesmas Tanjung Leidong, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian, Cabang Dinas Pendidikan, pihak PLN Persero bersama Pihak Telkom beserta unsur-unsur dan masyarakat, serta Tokoh Agama dan Pemuda. Camat Kualuh Leidong (Drs. H. Syofyan Yusma, M. Si), pada kesempatan Rakortim itu Syofyan Yusma banyak berbagi cerita, dimulai dari peningkatan Kesehatan, Pembangunan, Kesejahteraan Rakyat, dan lain-lain. Dalam Rakortim itu Syofyan Yusma juga mengingatkan tentang Pajak Bumi Bangunan yang ada di Kecamatan Kualuh Leidong belum mencapai 100% dan harapan Syofyan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya para Kepala Desa dan Kepala Dusun berkerja sama dalam menjalankan pengutipan Pajak Bumi Bangunanan tersebut, Sofyan juga memberitahukan kepada Masyarakat yang hadir bahwa di tahun 2010 Bantuan yang diterima di Kecamatan Kualuh Leidong ± 20 Milyar yang sudah dibangunkan, baik dari APBN, APBD, DAK, dan lain-lain. Dalam Rakortim tersebut Kapolsek Kualuh Hilir/Leidong dan Komandan Airut Kualuh Leidong juga berbagi cerita dengan lapisan Masyarakat yang hadir, terutama tentang Hutan Lindung / Ilegal Loging, Kapolsek dan Komandan Airut menyarankan kepada Masyarakat bahwa setiap Masyarakat yang membutuhkan Papan, Broti dan lain-lain, agar mengambil rekomendasi dari Kepala Desa/Lurah setempat, demi untuk menjaga penyelewengan dan penyalahgunaan Papan dan Broti tersebut. Para Kepala Desa juga memberikan laporan-laporan yang berkembang dan kendala-kendala yang dihadapi, yakni Kepala Desa Air Hitam (Suwarno), bahwa pelayanan Masyarakat terhadap Pemerintahan Desa cukup membaik dan Suwarno juga bangga bahwa dirinya bisa menjadi Kepala Desa di Air Hitam tersebut, dan pelaksanaan Alokasi Dana Desa (ADD) 2010 Desa Air Hitam bias dibilang 100 % sukses, begitu juga dengan Kepala Desa Teluk Pulai Luar (Riduan Zuhri) bahwa pelaksanaan pembangunan yang ada di Desa Teluk Pulai Luar bias juga dibilang 100 % sukses, ditambah lagi dengan Kepala Desa Pangkal Lunang (Muhammad Nur) proses pembangunan di Desa Pangkalan Lunang tersebut mencapai 100 %, begitu juga dengan Kepala Desa Kelapa Sebatang (Zainuddin) yang memberikan laporan tentang Pajak Bumi Bangunan masih terkendala, disebabkan oleh Masyarakat itu sendiri yang kurang meminati pembayaran PBB, dan proses Pembangunan di Desa ini 90 % dan selanjutnya akan dilaksanakan secepat mungkin, hal yang sama juga disampaikan Kepala Desa Simandulang (Sangkot) bahwa proses pembangunan di Desa tersebut sudah mencapai Klimaks, dalam kesempatan itu Kades Simandulang juga menyampaikan kepada Pihak PLN Persero bahwa di Dusun Simandulang Pantai Desa Simandulang keadan tiang Aliran Listrik itu sangat memprihatinkan, bahkan sudah ada memakan korban. Bapak Lurah Kualuh Leidong Juga melaporkan bahwa PBB yang ada di Kelurahan sudah mencapai 75% dan sisa nya akan terus dilanjutkan sehingga mencapai target maksimal. Dipenghujung acara Rakortim tersebut Bapak Camat juga menyampaikan bahwa setiap pembangunan yang terkendala, agar segera secepatnya melaporkan kepada-Nya, supaya akan ditindak lanjuti, Syofyan Yusma juga menambahkan bahwa data-data yang kita terima harus benar dan apabila data-data yang kita terima salah, maka pembicaraan akan salah, begitu juga dengan pembangunan pasti akan salah[]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Januari 2011 in Tak Berkategori

 

Mengenal Labuhanbatu Utara

Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) yang beribukota di Aek Kanopan, Kualuh Hulu adalah kabupaten yang baru dimekarkan dari Kabupaten Labuhanbatu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2008 pada 24 Juni 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Utara, semasa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kecamatan

1. Aek Kuo

2. Aek Natas

3. Kualuh Hilir

4. Kualuh Hulu

5. Kualuh Leidong

6. Kualuh Selatan

7. Marbau

8. Na IX-X

Batas wilayah

Utara : Kabupaten Asahan dan Selat Malaka

Selatan : Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Utara, dan Kabupaten Labuhanbatu

Barat : Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Tapanuli Utara

Timur : Kabupaten Labuhanbatu

Teluk Pulai Luar adalah salah satu desa terindah dan teristimewa di Labura. Dimana insya allah akan tampil pemuda-pemuda handal yang akan memimpin daerah yang belum terekspos ke luar daerah. diantara putra-putra daerah itu dalah salah satu putra asli teluk pulai dalam tepatnya di tangkahan penghulu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Januari 2011 in Tak Berkategori

 

Penetrasi dan Perkembangan Islam di Kualuh Abad XVIII-XIX

Studi perkembangan Islam di daerah Kualuh tidak dapat dipisahkan dari sejarah Islam di Labuhan Batu, bahkan lebih luas lagi sejarah Islam di Indonesia sebab posisi Kualuh sebagai bagian dari daerah Labuhan Batu. Penetrasi Islam di Labuhan Batu sendiri menurut catatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah ada sebelum 1900 M melalui jalurnya Pagar Ruyung, Mandailing, Tapanuli Selatan (Majelis Ulama Indonesia, 1983 ; 235-250.) Akan tetapi, fakta lain menunjukkan bahwa sekitar tahun 1800 telah berdiri sebuah kesultanan di daerah Kulauh, yang dipimpin oleh beberapa raja dan Islam nampaknya sudah dikenal saat itu.

Untuk menyebut di antara bukti nyata bahwa Islam telah ada di daerah kerajaan Kualuh sebelum tahun 1900, yaitu nama-nama raja Kualuh yang cenderung ‘Arab oriented’, seperti Sri Paduka Tuanku Al-Haji ‘Abdullah Ni’matullah Shah bin Muhammad Ishak (1868-1882); Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah (1882-1946), dan lainnya. Artinya, bahwa nama-nama itu telah menunjukkan bahwa mereka itu telah memeluk agama Islam jauh sebelum tahun yang disebutkan MUI tersebut. Selain itu, Islam di Kualuh juga nampaknya telah membangun kerja sama dengan daerah Islam lainnya, khususnya telah terjalin kontak dan transformasi keislaman dalam bentuk tradisi sufistik yang berkembangan di daerah Kualuh (Said, 1998 ; 23).

Transformasi ‘Islam sufistik’ ini setidaknya menjadi simbol peradaban Islam Kualuh, yang sampai saat ini masih ditemukan beberapa tempat pesulukan yang menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di daerah Kuluah. Lembaga ‘Islam sufistik’ ini setidaknya menjadi asumsi kuat bahwa tradisi keislaman yang berkembang di daerah Kualuh ialah ‘Islam sufistik’ itu, yang dapat ditandai dari sikap masyarakatnya sampai hari ini memberikan perhatian yang khusus terhadap kehidupan sufistik, bahkan dalam tataran tertentu tradisi ‘Islam sufistik’ ini memang sengaja dikekalkan masyarakatnya dengan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Sejauh pengamatan kami belum ditemukan ada suatu karya atau penelitian ilmiah yang menelusi akar dan perkembangan Islam di Kulauh, bahkan dapat dikatakan studi tentang Islam di Kualuh seakan terabaikan, khususnya sumber-sumber lokal. Kenyataan ini nampaknya sangat berkaitan dengan tradisi intelektual yang berkembang di kalangan masyarakat Kualuh yang tidak, atau kurang memberikan perhatian terhadap perkembangan Islam di daerah tersebut untuk mengabadikannya dalam bentuk tulisan, atau sangat mungkin juga kondisi kehidupan saat itulah yang belum memaksa mereka ‘orang-orang Kualuh’ untuk menuliskannya.

Nampaknya, di sinilah pentingnya penelusuran sejarah dan perkembangan Islam di Kualuh dilakukan setidaknya untuk menyelematkan sejarah Kualuh itu sendiri dari ketertinggalan, atau lebih tepat lagi dari kepunahan dengan cara melakukan penelitian tentang akar sejarah Islam di Kualuh.

sumber: http://progressifcircle.blogspot.com/2008/09/penetrasi-dan-perkembangan-islam-di.html

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Januari 2011 in Tak Berkategori

 

Revolusi Sosial tahun 1946 di Negeri Kualuh

Tahun 1946, sistem kerajaan di Sumatera digulingkan oleh pergerakan anti kaum bangsawan dalam sebuah revolusi berdarah yang dikenal sebagai Revolusi-Sosial. Kesultanan-kesultanan yang ada di Sumatera seperti Deli, Langkat, Serdang, Kualuh, Bilah, Panai dan Kota Pinang juga mengalami nasib yang sama.

Pergerakan anti kaum bangsawan kian memanas. Beberapa pemimpin politik yang opportunis, dua diantaranya adalah Karim Marah Sutan dan Luat Siregar dari Partai Komunis Indonesia (PKI), menggunakan pergerakan anti kaum bangsawan ini sebagai upaya untuk memperkuat kekuatan politik mereka. Untuk itu mereka menghasut rakyat sampai akhirnya terjadilah Revolusi-Sosial.

Saat itu raja-raja dan keluarganya dibunuh beramai-ramai dengan kejam dan hartanya dirampas. Selain itu para perusuh juga membunuh kalangan profesional yang berpendidikan barat, terutama mereka yang hidup mengkuti gaya hidup barat. Karena itu juga beberapa orang pro nasionalis dan keluarganya juga turut dibunuh dengan kejam.

Ditambahkan sedikit hikayat dari kesultanan Negeri Kualuh  yang di ambil penulis dari makciknya yang bernama Radja Latifah Hanum.

Dengan mendadak pada tengah malam Istana Kualuh dikepung, harta kesultanan di rampok. Raja Kualuh Yang Dipertuan Tengku Al Haji Muhammad Syah dan keluarganya serta bangsawan-bangsawan Negeri Kualuh di jemput paksa dan di bawa ke sebuah lubang besar yang sudah di siapkan di pinggir hutan.

Satu persatu keluarga bangsawan di panggil dan dihadapkan kedepan lubang dengan berdiri diatas lutut. Kemudian dipancunglah kepalanya satu persatu hingga menggelinding ke dalam lubang.

Saat Sultan Kualuh Radja Yang Dipertuan Tengku Al Haji Muhammad Syah hendak di pacung, sedikit pun kulitnya tidak tergores. Lalu di tikamlah dari belakang, namun sedikitpun tidak tergores juga. Beberapa kali pedang pisau kampak di torehkan ke kulit Radja maka tak satu pun yang bisa melukai kulitnya. Hingga ada satu seruan yang mengatakan,”Bakar…”.

Maka di siapkanlah api untuk membakar. Radja khawatir dia dibakar maka beliau berkata,”Apakah kalian memang bersungguh-sungguh untuk membunuhku?”.Di jawab mereka dengan yakin dan pasti,”Ya…!” lalu Radja berkata,”Ambillah keris dari dalam lemari di kamarku, sungguh aku hanya bisa di bunuh dengan itu”.

Maka mereka mengambil keris tersebut lalu dengan keris itu dibunuhlah Radja dan beliaupun wafat.

Ada lagi hikayat, bangsawan dari Negri Kualuh yang namanya sumber cerita tidak ingat namanya tidak bisa dibunuh dengan senjata tajam, maka dengan ganasnya rakyat beramai-ramai menguburnya hidup-hidup.

Salah satu bangsawan yang bernama Raja Bahrum di panggil dan detik-detik pemancungan akan di lakukan, ada yang berteriak, ”Hei aku kenal dengan orang ini. Ia salah satu tentara nasional”. Saat ditanya Raja Bahrum mengiyakan, maka selamatlah Raja Bahrum dari pemancungan.

Beberapa bulan kemudian sepupu Radja Bahrum, kakek penulis dari Tanjung Pura Langkat Sumatera Utara bernama Raja Kobat beserta ibunya Tengku Siti juga anaknya Raja Latifah Hanum datang berkunjung ke negeri Kualuh, dan merekalah menjadi saksi bahwa Sejak kejadian tersebut Raja Bahrum bisu dan tidak bisa berbicara karena shock sampai akhir hayatnya.

Sungguh tragedi menggenaskan buat sejarah kesultanan pada masa Revolusi-Sosial.

Sumber cerita : Radja Latifah Hanum.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Januari 2011 in Tak Berkategori

 

Putra Teluk Pulai Luar Meraih Gelar M.A.

Medan, 26 Mei 2010
Salah seorang putra kelahiran Teluk Pulai Luar berhasil menyandang gelar M.A. (master of art) setelah berhasil mempertahankan tesisnya—pada akhir 2009 yang lalu dan diwisuda pada 26 Mei 2010 ini—dihadapan para penguji bertitel “Masa Depan Islam Liberal di Indonesia: Studi 5 Tahun Mendatang”. Tesis ini termasuk unik dan menjadi kajian pertama yang mengedepankan metodologi future studies. Menurut Ziaulhaq—penulis tesis ini—kajian ini menarik perhatiannya sebab kajian Islam selama ini hanya berfokus pada aspek kesejarahan masa lalu. Dalam tesis ini menurut Zia isu liberalisme sebenarnya tidaklah hal yang menarik, tetapi yang menarik justeru terletak pada metodologinya, yaitu future studies.
Untuk itu lebih lanjut menurut Zia PT Islam sudah saatnya membuka diri terhadap future studies ini sebab di PT Islam di Indonesia sangat ketertinggalan dengan Barat. Di Barat kata Zia future studies bukan hanya menjadi sebuah disiplin ilmu, tetapi juga sudah lama menjadi fakultas. Sedang kita di Indonesia untuk tingkat mata kuliah saja belum ada. Dalam kesempatan ini juga Zia menyarankan pemerintah—terutama Depag—harus mengisiatifi para dosen untuk mendalami future studies ini.[]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Mei 2010 in Tak Berkategori

 

Tag: ,

Pelatihan Sensus Penduduk 2010

Kualuh Leidong, untuk mendukung suksesnya pemilihan kepala daerah yang akan dilakukan di Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura) pada pertengahan 2010. Kecamatan Kualuh Leidong telah mengadakan Pelatihan Sensus Penduduk 2010 yang dilaksanakan pada tanggal 06 April 2010. Pelatihan ini dihadiri oleh beberapa Kortim dan PCL, di antara peserta yang hadir adalah dari Desa Teluk Pulai Luar yang diwakili beberapa PCL, di antaranya Ali Rafsanjani, Al Azhar, Rusnaini dan Saripuddin. Acara ini dimulai pada pukul 08.00 sampai 17.00 wib, acara ini berlangsung dari hari selasa sampai hari kamis. Pada kesempatan acara pelatihan sensus ini Ali Rafsanjani mengatakan “pelatihan sensus ini penting dilakukan supaya para petugas mengetahui tugas dan tanggung jawabnya dalam melakukan sensus”. “itu merupakan langkah yang tepat dalam mendukung program pemerintah”lanjut Ali. Adapun program pendataan sensus penduduk ini akan diadakan pada tanggal 01 Mei sampai 31 Mei 2010.[]

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 April 2010 in Tak Berkategori

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.